Kisah Ali Muharam di balik sukses Makaroni Ngehe, dulunya cuma sales

0
206

Masa muda Ali Muharam penuh dengan kepahitan. Banyak cobaan hidup yang dia alami. Susah makan, besok makan apa, adalah beberapa kosakata akrab yang dihadapinya sehari-hari.

Keadaan finansial yang sangat sulit memaksa pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, ini bekerja dengan keras. Setelah lulus SMA, dia merantau ke Bogor sebagai sales. Lalu dia pindah pekerjaan menjadi penjaga kantin di Jakarta.

Fase kehidupan Ali sedikit membaik ketika dia mendapat sebuah tawaran pekerjaan sebagai penulis skenario salah satu sinetron televisi. Dari sanalah, kehidupannya yang awalnya penuh dengan kepahitan berangsur membaik.

Pada 11 Maret 2013, dia memulai bisnis makaroni. Namun ujian terus datang. Banyak yang meragukan bisnisnya dapat berkembang. Apalagi makaroni adalah makanan yang banyak ditemui di warung.

Tetapi Ali tidak patah arang. Melalui kerja kerasnya, pada awal-awal dia rela tidur di dekat penggorengan, bisnisnya perlahan tumbuh melebihi ekspektasi.

Berawal dari satu outlet di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sekarang Makaroni Ngehe telah melesat di berbagai kota. Outletnya telah mencapai 29 outlet Makaroni Ngehe, dan 1 outlet Makaroni Ngehe Premium.

Ali pun mengatakan, brand Ngehe memiliki arti semacam hoki. Mungkin karena nama brand itu mewakili sebagian besar dari perjalanan hidupnya. Secara harfiah ngehe berarti mengesalkan. Tetapi Ali mendeskripsikan “ngehe” menjadi: “Saat keadaan terlalu mengesalkan dan melebihi ekspektasi, ungkapan yang digunakan ketika kesal dan gemas terhadap sesuatu yang kelihatan awesome”.

Menikmati sukses berbisnis, Ali mengajak lebih banyak anak muda Indonesia untuk tidak takut berwirausaha. “Jangan pernah takut untuk memulai suatu bisnis. Apabila ada kesempatan atau keinginan lakukan sedini mungkin. Karena, jika tidak, akan ada orang lain yang mengambil ide kita,” ungkap Ali.