Curhatan pilu istri dampingi suami yang kehilangan kepala bagian depan

0
212

Seorang remaja di South Carolina, dikabarkan meninggal secara mendadak akibat overdosis kafein yang terkandung dalam minum berenergi. Dan sekarang ada seorang ayah yang bernama Austin yang sudah kehilangan otak bagian depan. Penyebabnya adalah karena Austin sangat sering mengonsumsi minuman berenergi secara rutin selama berbulan-bulan.

Kisah yang dialami oleh Austin ini diceritakan oleh sang istri, Brianna, yang saat itu baru beberapa minggu melahirkan anak pertama mereka.

Austin dan Brianna merasa sangat senang akan dikaruniai anak pertama. Tetapi, ketika Brianna sedang hamil 9 bulan, dia harus mendengar kabar yang mengejutkan dari mertuanya. Suatu pagi, dia dibangunkan oleh ibu mertuanya yang mengatakan jika suaminya mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Dan Brianna sendiri tidak tahu mengapa suaminya tiba-tiba masuk rumah sakit.

Setelah dua jam perjalanan ke rumah sakit, kemudian Brianna mengetahui jika suaminya mengalami pendarahan di otak. Dan para dokter menyimpulkan jika kejadian mengerikan yang dialami oleh Austin ini disebabkan oleh konsumsi minuman berenergi yang berlebihan.

Usai menjalani pemeriksaan berulangkali lalu dokter mengambil kesimpulan jika sang suami mengalami stroke hemoragik. Dokter menjelaskan jika penyebab dari stroke hemoragik tersebut kemungkinan besar karena konsumsi minuman berenergi dalam jumlah banyak.

Operasi segera dilakukan untuk mencegah pendarahan otak yang semakin parah. Setelah 5 jam menunggu, akhirnya Brianna dan mertuanya dapat menemui Austin. Dan semua orang terfokus pada wajah Austin yang hampir tidak dikenali karena tertutup dengan segala macam peralatan medis. Brianna melihat betapa hancurnya kedua orangtua Austin ketika melihat anak laki-lakinya terbaring di ranjang rumah sakit dan kehilangan bagian depan kepalanya.

Austin tidak sadarkan diri setelah menjalani operasi tahap yang pertama. Padahal sudah tiba waktunya untuk Brianna melahirkan. Brianna lalu memutuskan pulang ke rumah untuk mempersiapakan proses persalinan dan meninggalkan suaminya bersama dengan sang mertua.

Tetapi siapa sangka, keajaiban yang indah justru terjadi saat Brianna menjenguk sang suami sekitar seminggu usai melahirkan. Austin terbangun ketika Brianna membisikkan kepadanya jika bayi mereka sudah lahir dan betapa mereka membutuhkannya.

Walaupun tersadar, hari-hari berikutnya bukanlah waktu yang mudah dilalui Austin. Dia harus menjalani banyak operasi dan beberapa prosedur medis. Karena Austin sering mengalami kejang, pusing, muntah dan peradangan. Tetapi, Austin dapat melihat anaknya untuk yang pertama kali saat sang anak berumur 2 bulan.

Hidup yang dijalani oleh Austin dan Brianna tidak normal. Ada banyak kunjungan dokter dan perjalanan ke rumah sakit yang harus dilakukan. Dan ketika di rumah, Brianna juga harus membantu sang suami untuk menjalani setiap aspek hidupnya.

Tetapi mereka tetap berjuang untuk menjalani hari-hari tersebut dengan penuh cinta dan tanpa pamrih. Dan Brianna pun merasa bersyukur jika suaminya masih diberi kesempatan untuk hidup.